Seni Budaya Indonesia itu Ketinggalan Jaman. Yakin?
- Feb 19, 2017
- 3 min read
Seni dan budaya Indonesia yang sudah sepatutnya menjadi kebanggaan kita sebagai rakyat Indonesia dan seharusnya kita pertahankan, sekarang mulai hilang dikarenakan masuknya budaya asing. Dalam era globalisasi dan modernisasi, kebudayaan tradisional Indonesia mulai mengalami erosi dan tergantikan dengan budaya asing yang masuk ke Indonesia. Banyak pemuda Indonesia yang menganggap dan memandang seni dan budaya Indonesia sebagai seni masa lalu; cenderung kuno dan sudah ketinggalan jaman. Sebaliknya, budaya pop dianggap lebih dapat mencitrakan gairah anak muda karena lebih fleksibel dan ekspresif. Benarkah?
Seni dan budaya Indonesia yang tak ternilai harganya, kini justru menjadi tidak bernilai dimata para pemuda. Perkembangan jaman yang seharusnya memajukan malah menjadi titik kemunduran bagi jati diri bangsa Indonesia. Terlebih para pemuda yang seharusnya menjadi agen-agen perubahan, menolak untuk mengingat jati dirinya sebagai bangsa Indonesia. Para pemuda menganggap bahwa seni budaya Indonesia itu kuno dan ketinggalan jaman. Tanpa mencoba untuk mempelajari dan menggali lebih dalam tentang seni dan budaya Indonesia itu sendiri. Hilangnya niat untuk mempelajari seni dan budaya Indonesia merupakan awal yang buruk bagi para pemuda karena mereka telah melalaikan kodratnya sebagai bangsa Indonesia. Padahal, seni dan budaya Indonesia memiliki banyak sekali potensi dan nilai-nilai yang sangat tinggi yang dapat ditunjukkan kepada dunia luar, sebagai identitas dan kebanggaan bangsa Indonesia. Pula, belum banyak para pemuda yang mencoba menggali dan membicarakan potensi seni dan budaya Indonesia dalam konteks kekinian.
Faktanya, sudah banyak seniman Indonesia yang melalangbuana ke keliling dunia terjun ke kancah internasionla dengan membawa nama baik Indonesia di bidang seni dan budaya. Tanpa disadari, seni dan budaya Indonesia telah berhasil bergaul di kancah internasional. Ironisnya, justru banyak orang luar yang lebih bangga akan kekayaan seni dan budaya Indonesia dibandingkan dengan rakyat Indonesia sendiri. Padahal dalam seni dan budaya Indonesia serta tradisi yang ada terkandung makna esensial dan ruh yang sudah seharusnya dilanjutkan oleh bangsa Indonesia sendiri. Makna-makna tersebut pantas untuk diteladani dalam konteks kehidupan manusia secara berkesinambungan serta dapat mengungkapkan sikap dan proses pengetahuan sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak cara untuk mempertahankan seni dan budaya Indonesia pada era globalisasi ini, salah satunya dengan pendekatan modern. Pendekatan tersebut dapat dimanfaatkan untuk melahirkan karya seni dengan cita rasa kekinian yang berbasis pada seni dan budaya Indonesia tanpa menghilangkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sudah banyak seniman Indonesia yang telah menunjukkan karyanya di kancah internasional dan membawa nama baik Indonesia. Salah satu contohnya ialah Iwan Tirta, dengan batiknya yang tetap membawa nilai-nilai budaya yang sangat luhur dengan seni batik tingkat tinggi dan tetap terlihat modern dan berkelas. Selain batik yang justru dibanggakan dan diakui dunia, gamelan dan angklung pun juga mendapatkan perhatian dunia. Contohnya Saung Mang Udjo yang kian ramai dengan pengunjung dan turis asal luar negeri yang semangat untuk mengetahui dan mempelajari bermain alat musik tradisional Indonesia, Angklung.
Mengutip ungkapan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan,
“Melestarikan tradisi itu ‘ga’ kuno, tetapi justru ‘keren’. Anak-anak harus dibebaskan berekspresi menangkap suasana di zamannya dan mengembangkan kebudayaan,”
pada acara Pekan Budaya Indonesia di Semarang. Sudah seharusnya pemuda Indonesia untuk mengubah pola pikirnya bahwa seni dan budaya Indonesia tidaklah kuno dan ketinggalan jaman. Justru nilai-nilai kebanggaan patut untuk ditanamkan, sehingga terciptalah niat untuk mempelajari dan menggali lebih dalam lagi tentang seni dan budaya Indonesia. Menurut Anies, Ki Hajar Dewantoro melalui bukunya yang berjudul “Pendidikan dan Kebudayaan” memberikan pesan bahwa generasi muda jangan hanya diajarkan untuk melestarikan kebudayaan. Maka dari itu, setelah mempelajari seni dan budaya Indonesia sudah menjadi tugas para pemuda untuk terus mengembangkan seni dan budaya Indonesia tersebut. Karena dalam menjalankan dan mengekpresikan seni dan budaya Indonesia, bukanlah sesuatu yang bersifat statis, melainkan dinamis karena terdapat dinamika dan harmoni di tengah kebhinnekaan Indonesia.
Melalui Umahkita, para pemuda dan siapapun yang mencintai seni dan budaya Indonesia, memiliki kesempatan untuk menyalurkan rasa bangga dan cinta terhadap bangsa Indonesia dengan terus mencari, belajar, berbagi, dan berkarya. Mematahkan stigma yang menganggap bahwa seni dan budaya Indonesia telah ketinggalan jaman, dengan terus mengembangkan dan menciptakan karya-karya baru dengan semangat yang tinggi demi melestarikan seni dan budaya Indonesia. Mengukir setiap prestasi dengan karya yang tiada akhir atas nama bangsa Indonesia.




Comments