Perjalanan Kembali: Akar dan Tujuan
- Feb 7, 2017
- 4 min read
Berada di tengah hiruk-pikuk keramaian kota, dipenuhi dengan segala kesibukan, rutinitas, dan aktivitas yang padat, membuatku berpikir tentang apa yang sebenarnya ingin aku raih. Setiap manusia sepatutnya memiliki tujuan dalam hidupnya–sesuatu yang menjadi landasan dalam menjalani setiap proses yang akan dilalui. Namun, apa jadinya jika seseorang belum menemukan tujuan yang ingin ia raih? Mereka akan tersesat, tenggelam, bingung, dan kehilangan arah. Mereka hanya berjalan, tanpa adanya destinasi. Begitu pula dengan diriku yang telah tenggelam dalam kesibukan yang fana, tanpa arah dan tujuan yang menjadi landasan untuk mencapai kehidupan yang hakiki dan bermakna. Bermakna baik bagi diri sendiri, maupun orang banyak.
Kilas balik terjadi ketika aku kembali mengunjungi rumah Eyang, tempat dimana aku menghabiskan masa kecilku. Aku teringat akan setiap nilai yang selalu beliau tanamkan ketika mengasuhku dahulu. Membuat aku tersadar akan sesuatu yang luput dari diriku yaitu seni dan budaya yang telah mengakar sejak aku kecil. Tumbuh dan berkembang di tengah keluarga Jawa membuatku terbiasa mengenal toto kromo sejak dini. Seni dan budaya Jawa menjadi bagian dari hidup keluargaku sehari-hari. Teringat jelas memori ketika Eyang menyanyikan lagu nina bobo berjudul “Tak Lelo Ledung” hingga aku terlelap tidur. Tidak hanya bernyanyi, Eyang juga biasa mengantarku tidur dengan bercerita tentang kisah-kisah jaman dahulu, dongeng, sejarah, pula tentang keluarga kami terdahulu yang ternyata juga penggiat seni. Banyak kisah, cerita, dan juga pesan yang biasa disampaikan oleh Eyang, yang menjadi amanah dan pedoman untukku dalam menjalani kehidupanku sendiri. Tutur kata Eyang selalu teringat olehku hingga saat ini–menjadi semacam petuah bagi kehidupanku ini.
Sejak kecil aku menjadi saksi hidup bagaimana Eyang selalu bersemangat melestarikan seni dan budaya Jawa. Eyang selalu aktif dalam komunitas tari, wayang orang, dan sinden. Suatu kewajiban bagi beliau untuk menurunkan semangatnya kepadaku. Maka beliau pun sering membawaku ke pagelaran seni dan mengajariku untuk memahami nilai-nilai dalam seni tersebut. Beliau juga gencar untuk mengajakku menjadi penggiat seni. Karena menurutnya, budaya yang telah ada patut untuk dijaga dan dilestarikan. Semangatnya menular kepadaku, atau mungkin, semangat itu memang sudah mendarah daging dalam diriku. Ya, aku pun meneruskan semangat beliau dengan menjadi penari. Di setiap jenjang pendidikan, dimulai dari taman kanak-kanak sampai aku aku berada di sekolah menengah atas, aku selalu aktif menari di setiap acara, dan perlombaan. Aku tersadar bahwa menari adalah renjanaku. Sesuatu yang membuat aku selalu bersemangat dan media bagiku untuk mengekspresikan diri. Tidak hanya menari, tetapi aku pun belajar tentang makna dalam tarian itu sendiri. Bagaimana setiap gerakan, perpindahan, ketukan nada yang selaras dengan melodi yang indah, dapat mengiringi sebuah tarian, dan terbentuk menjadi sebuah kesenian yang bernilai tinggi. Semakin aku belajar dan menikmati setiap proses dalam menari, semakin aku tersadar bahwa budaya yang kami miliki amat luhur. Dan, aku jatuh cinta oleh budaya yang aku miliki, budaya Jawa, budaya Indonesia.
Namun, dalam mencintai tentu tidak akan selalu berjalan lurus. Terkadang, kamu harus menyusuri setiap lika-likunya. Sama halnya dengan aku dalam mencintai seni budaya yang aku miliki. Banyak lika-liku yang harus aku hadapi dan aku lewati. Seiring berjalannya waktu, aku semakin sulit untuk menemukan wadah untuk berseni. Sekalipun tersedia, wadah itu terlalu terbatas. Padahal, seni budaya yang kita miliki tidak terbatas. Sulit untuk menggali budaya yang kaya ini dengan sumber yang terbatas. Tidak hanya wadah yang sulit untuk berseni, tetapi juga waktu yang semakin berkurang untuk dibagi. Penuhnya kegiatan dan aktivitas yang aku miliki, tuntutan akademis, status, dan karir membuatku tenggelam dan kehilangan arah. Aku tidak tahu apa yang menjadi tujuanku. Ya, aku tersesat.
Kunjunganku ke rumah Eyang merupakan perjalananku untuk kembali. Mencoba mencari yang selama ini luput, melihat kembali lebih dekat hal-hal kecil, dan mengingat-ingat memori lama yang telah membawaku sampai di titik ini. Dan memang, semesta selalu mempunyai caranya sendiri. Alam akan selalu memberikan jawaban. Sampailah saat ketika aku menemukan lemari yang berisi album foto keluarga kami. Kubuka setiap album yang ada di setiap rak dalam lemari itu. Lalu, akupun menemukan satu album yang mengabadikan momen liburanku ketika masih kecil. Seketika, setiap cuplikan momen indah itu terlintas dalam ingatanku. Kami berkunjung ke Yogyakarta, kampung halaman Eyang Kakung yang kini sudah tiada. Disana, aku dan keluargaku menetap di daerah Tembi. Kami menginap di penginapan yang juga sekaligus sebuah museum budaya. Memang, kali itu adalah sebuah perjalanan budaya. Satu persatu aku melihat foto-foto yang telah tersimpan lama dalam album yang telah berdebu. Lalu, tiba-tiba mataku menatap dengan lekat sebuah foto yang memperlihatkan aku sedang belajar bermain gamelan bersama saudara-saudaraku. Teringat jelas di ingatanku bagaimana aku sangat menikmati momen itu, mempelajari hal baru. Dan, terlihat dalam foto itu bagaimana senyumku merekah ketika memainkan gamelan itu. Tidak hanya bermain gamelan, aku pun ingat ketika disana aku bertemu dengan seniman-seniman hebat. Melihat mereka terus berkarya dalam menjaga budaya, membuatku terinspirasi untuk menciptakan lebih banyak karya yang bernilai dan bermanfaat. Membuatku tergerak untuk meneruskan apa yang seharusnya diteruskan. Meneruskan untuk melestarikan budaya yang dimiliki, budaya Jawa, budaya Indonesia dengan caraku sendiri.
Mereka yang mencari, pasti akan menemukan. Kini, jawaban atas pertanyaanku sudah terjawab. Aku tersadar bahwa selalu ada alasan mengapa kita dilahirkan sebagai salah satu penduduk Indonesia yang bertumpah darah Indonesia. Alasan itulah yang akhirnya akan menjadi tujuan. Tujuan untuk meneruskan seni dan budaya yang telah diturunkan oleh para leluhur. Banyak cara untuk melestarikan seni dan budaya, pula untuk menciptakan karya-karya yang bernilai dan bermanfaat bagi orang banyak. Dengan latarbelakang pengalaman pribadi, aku pun tergerak untuk membuat sebuah wadah, tempat, destinasi, bagi mereka yang memiliki visi dan misi yang sama untuk berkarya melalui seni dan budaya Indonesia. Destinasi itu adalah Umahkita, tempat berkumpul untuk mencari, menelusuri, belajar, berbagi, dan menciptakan seni dan budaya lewat berbagai macam media yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Umahkita merupakan wadah tanpa batas, untuk mengembangkan minat dan bakat dalam setiap jenis seni yang ada. Umahkita merupakan tempat, destinasi untuk kembali. Kembali ke akar, dan menemukan tujuan.





Comments